Selasa, 01 September 2015

Puisi Kritikan Sosial




" INDONESIA MILIK TIMUR "
( Karya : Ramadhan Yusuf )


ditimur... INDONESIA mengadu nasib
bersama ribuan kurcaci yang licik...
memenggal kotak hitam menjadi sumur
mengalirkan air ke negri seberang
membasahi tenggorokan yang kering

di timur.... GARUDA menyerang
bertarung sengit melawan cendrawasih
kemodo bercerita sejarah
paus terbaring panik di pesisir
akankah lautku menjadi kering????

Raungan Bumiku terdengar jelas ditimur
pedih perih lukaku ditindis
oleh dokter dokter yang pintar berjanji
besok lukamu akan sembuh
sambil memberiku minum susu
dan tertidur lelap dalam pelukan mereka

TIMUR.... TIMUR....dan TIMUR
hitam kulitku tak sehitam hatimu
kriting rambutku tak sekeriting JIWAMU
kaya negrimu Tak sekaya INDONESIA....



" Takdir Yang Menggugat "
( Karya :Ramadhan Yusuf )


serpihan jiwa yang tertinggal
diujung kota para aktivis
yang melahirkan tunas-tunas baru
yang saling menembak dan membunuh
dengan senjata-senjata ampuh 


jiwa-jiwa bertarung yang terdidik
dari seribu macam teriakan
yang mencengkram dan merobek
kulit-kulit mati yang tertinggal

garis tangan masi jelas terukir
bersama takdir yang berpihak
walaupun jeruji besi yang ganas dan buas
menjadi benteng kekuuatan
tak pernah menghadang dan memadamkan
barah keberanian yang tertanam
dalam jiwa-jiwa yang tertinggal....
 SALAM DARI TIMUR


"Timur, Anak Tiri INDONESIA"
    ( Karya : Ramadhan Yusuf )


Di timur sang fajar terbangun berevolusi
Menyinari mereka yang kegelapan
Memberikan kehangatan dalam dinginya kegelisahan
Membuat mereka bertanya tanya....
"Kapan kegelisahan ini berakhir"
"Apakah kegelisahan ini akan abadi"???

Ditimur anak tiri indonesia yang terbuang
Dari kejamnya penguasa negri ini
Menaburkan wajah mereka dengan abu
Seolah olah mereka adalah budak

Setiap detik, setiap menit, setiap jam
Sang fajar bergeser menuju kebarat
Menerengi  anak anak penguasa
Yang sedang belajar
Menulis, membaca, berhitung.....
Dan berpikir
Apa lagi yang harus kita lakukan
Apa lagi yang harus kita rencanakan
Berapa banyak lagi yang harus kita buang

Sampailah sang fajar meredup
Malu akan perilaku mereka
Yang mencoba untuk menghpus
Semboyan bhinneka tunggal ika....

#INDONESIA bukan milik jakarta dan sekitarnya


"SUARA MAYOR"
(Karya: Ramadhan Yusuf)


suara gemuruh dibalik surya
memancarkan sinar tak bercahaya
bayangan semu tak bertulang
menyulap daun menjadi uang
kerikil menjadi berlian
kayu menjadi istana
keringat menjadi minyak wangi
demi nama anak-anaku
yang kelak menjadi raja


wajah polos tak berdosa
menggoyangkan kaki tanpa instrumen
merah putih telah berkibar
kebebesan masi terbelenggu

jejak langkah disetapak jalan
dihadang tsunami tak berombak
air mata darah diujung abad
bayangan tetap saja hitam


lirik melirik mata surya
memberi isyarat tak bermakna
merpati putih masi terbang bebas
menunggu suara yang bersatu

Untukmu TIMUR dan BORNEO



"KATA"
(Karya: Ramadhan Yusuf)

Aku adalah kata
yang mampu berkata dengan kata-kata
dengan kata aku bisa berkata
bahwa kata itu indah
seindah orang yang berkata
didepan umum saat berjanji dan bersumpah
memberikan sebuah keyakinan
bahwa aku adalah kata

karena kata aku bisa berbohong
karena kata, aku bisa memimpin
karena kata aku bisa berkuasa
karena K...A...T...A...


Aku adalah kata
yang meniduri garudaku
yang memperkosa bangsaku
yang membayar badut-badut serakah
untuk mencebok pantatku
untuk membersihkan penisku
untuk membersihkan maniku
yang berserak di depan halaman rumah


Aku adalah kata
dan terus akan berkata
dengan kata-kata indah
seperti semi dalam bercinta
seni dalam beraksi....

Hormatku.... untukmu di kursi panas.....


" Sabda Menelanjangimu "
( Karya: Ramadhan Yusuf )

Diatas sana aku mendengar sabdamu mengalir
mengajak ku untuk berpaling dari realitas
tak sempat kuangkat jempol untukmu
kau telah membusungkan dada dihadpan mereka
dengan berceloteh seperti beo di dalam kandang

akankah ini sabdamu sesungguhnya
keluar dari lidah para iblis
yang mampu memberikan rangsangan
hingga mencapai puncak klimaks yang dasyat

sabdamu begitu mahir seperti naskah
mengikat para aktor untuk berekspresi
lidahmu begitu lentur seprti karet
yang mampu mengarahkan ke kamaluanmu

apakah kamu sanggup mempertanggung jawabkan
kata kata yang terlahir dari sabdamu
yang membuat semua orang berkata WOW....

kalau hanya kemunafikan
seorang pecundangmu pun bisa
tapi kamu tak sadar bahwa dirimu adalah kemunafikan
dan rohmu adalah Seikat kembang Kamboja dikuburan



"Zaman Edan"
( Karya : Ramadhan Yusuf)


Zaman kini semakin edan
Ambigunya tak karuan
Rakjat jadi caleg, caleg jadi pejbat
Pejabat jadi dewa. Berkuasalah dia...
Mulut2 penuh dengan mani
Kiri kanan ada anjing berjas berkacamata...
Rakjat dijadikan tulang belulag
Rakjat dijadikan kambing hitam
Entah siapa kambing putihnya
Putih itu mani... Bukan kapas


Oh zamann ku
Lupa akan asal muasal
Lupa akan bau tanah
Lupa akan gubuk dan nasi jagung
Seprti kambing menjinahi induknya
Seprti singa memangsa anaknya
Karena memperlakukan hukum rimba
Pikiran kusut membentur simpul
Simpul yang mengikat sejarah
Untuk melenyapkan para generasi
Pemberontak-pemberontak yang mengibarkan sang saka....
Keadilan ditelan oleh zaman

Zaman edan tak karuan
Menghirup pilu pikul para rakjat
Rakjat rakjat mati dalam retorika
Power mereka telah lenyap
Lenyap dalam zaman edan
Zaman edan ciptaan para politis
Dilindungi anjing berjas
Sekali menggonggong kongkang senjata
Sekali diam terus menjilat

Oh zamann edan...
Atas nama garuda ideologinya
Atas nama pertiwi buminya
Atas nama rakjat aku memimpin
Itu salah mereka bukan salahku
Itu pemikiran mereka bukan pikiranku
Itu negri mereka bukann negri kita
Karena indonesia adalah negri dongeng...




“Peluru Perak Tak Berwujud”
( Karya : Ramadhan Yusuf )


Whahahahahahah...
Aku bngga semua org menembakku
Dengan peluru perak tak berwujud
Berusaha merobek kulitku
Yg lunak tak bertulang

Hei...
Agar kalian tau
Haram bagiku darah ku tumpah
Membasahi peluru kalian
Karena itu tak berguna

Biarkan kulitku yang mengupas
Semua yang kalian miliki
Dari peluru baja itu
Agar kalian tau
Bahwa aku bangga
Kalian bisa menembakku
Padahal aku tak menyerang
Karena peluru ku tak semurah
diri kalian yg haus akn darah ku ...






" DIBALIK JERUJI BESI "
( Karya : Ramadhan Yusuf )


dibalik jeruji besi
kami dikurung dan ditahan
padahal kami bukan tahanan
bukan pula penjahat yang tertangkap

dibalik jeruji besi
kami dipantau dan di mata - matai
oleh intel bermata satu berkekuatan 5 meter
padahal kami bukan pengedar

dibalik jeruj besi
kami diceritakan para artis tak berkarya
yang cuman bisa digendong dan disusui
oleh sapi yang berkumis tipis

dibalik jeruji besi
kami berbagi kemandirian
bukan sebagai aksesoris
melainkan selogam emas yang mahal
tapi murah dimata sapi berkumis tipis
dan artis tak berkarya yang disusui....

itulah mereka ...... sapi dan artis..... tak berkarya......




"KEMBALI AKU BERSEMEDI"
( Karya: Ramadhan Yusuf )

kembali aku bersemedi
memutarkan waktu yang telah hangus...
dan hancur berkeping-keping
dibalik kisah - kisah para aktivis
yang diculik dan dibunuh...

kembali aku berjiarah
diatas genangan coretan hitam
menutupi majalah putih berseri
dengan tinta pemberontak dan penegak keadilan

kembali aku membuka
pintu cakrawala yang tertutup
memastikan kehidupan para aktivis
yang dijadikan bahan uji coba
para mavia bertopeng malaikat

inikah sebuah sejarah
yang selalu dimanupulasi kebenaran
oleh malaikat berwajah iblis
kembali aku bersemedi...

dimana???
kapan???
siapa???
yang menjadi aktor utama
dalam mendesain seni dalam drama???

KEMBALIKAN WAJAH _ WAJAH YANG HILANG




"Penulis Dizaman Api"
( Karya : Ramadhan Yusuf )

Cakrawala dunia terbentng di mana2
Tiap plosok memberikan seribu huruf
Yang tak dikenal
Seribu kata tak bermakna
Seribu kalimat tak dipahami

Didalam bambu kuning
Menyimpan sengumpal air berkhasiat
Seribu nyawa berkobar merebutnya
Ada yang hanya meminumnya
Ada yang hanya mencuci
Ada yang hannya membiarkan
Yang lain merebutnnya
 tanpa ada larangan dri mereka...
Ada pula yang menjual
untuk mempersakti diri di jagat raya

Senjata ampuh berujung runcing
Yang terus menembak tanpa henti
Diatas bentang sajadah putih
Oleh tangan2 penembak jitu
Malah mereka ditangkap dan dibuang
Seperti sampah tak bertuan
Yg terlentang dan terapung
 di atas sungai berlumpur api...

Cakrawala dunia yang tak pernah berkebang di hari itu..
Di jadikan kayu untuk membkar
 semua bambu2 kuning hingga punah
Asap2 hitam terus tertiup angin
Entah kemana mereka mebawa
Hingga tuhanpun tak mampu menghentikan...
Abu-abunya dijadikan campuran semen
Untuk membangun istana pertahanan
Para raja dan ratu...
Pada zaman itu...


" Ada Apa Dengan Bunga Dan Baju "
( Karya : Ramadhan Yusuf )

Gerbang mu indah dengan bunga
Bunga mawar merah dan putih
Mawar merah yang cerah dan berani
Mawar putih yang suci dan berseri
Kau menyuruhku untuk memetiknya
Tapi ada duri kau diam
Lantara kumbang tak bergigi
Halamanmu kau tanam beribu macam bunga
Bunga-bunga yang segar dan tegar
Kau menyuruhku untuk memandang
Bunga ku pandang malah kau tertawa
Menipuku itu bukan bunga yang berakar
Tiap-tiap sudut tembok rumahmu
Kau gantungkan bunga-bunga yang merambat
Menutupi jamur dan lumut ditembok rumahmu
Kau menyuruhku untuk meraba
Tembok kurabah, kau malah menangis
Lantara kau tak tega merabanya
Kau menyuruhku untuk memandangmu
Kau Kupandang, Malah Kau Berlari
Kau berlari, kau menyuruhku agar mengejarmu
Kau kukejar, malah kau bersembunyi
Bersembunyi didalam kamar
Dikamar kau kucari
Malah kau memberiku baju
Bajuku pakai, malah kau menyuruhku untuk mengganti
Bajuku ganti, malah kau membelikannya diluar negri
Inginku ucapkan terimaasih
Malah kau merendahkan dirimu
Inginku membanggakanmu, 
Malah kau beretriak keras
Inginku tenangkan dirimu
Kau malah berbuat-buat
Ada apa sebanarnya dengan dirimu ???
Ada apa sebenarnya dengan bunga itu ???
Ada apa sebenarnya dengan baju itu ???
Aku mencoba untuk diam
Malah kau memusnakan semuanya
Ada apa sebenarnya ???


" Atraksi Siluman Ular "
( Karya : Ramadhan Yusuf )
Kepala siluman ular menari nari
Diatas panggung sirkus yang megah
Berbusana keimanan n keyakinan
menyelimuti diri dengan kewibawaan
Mengalihkan pandangan penonton
Berharap teriakan yang meriah
Dia tengah tengah atraksinya
Perlahan lahan menyusuri cela kursi
Para penonton yang labil 
Mendekat dan terus mendekat
Dia mengakrabkan diri 
Mencoba untuk menggauli
Dan memberikan kejutan
Agar mendapatkan pujian
Atas kehebatan dirinya beraktraksi
Ular-ular siluman
Sejauh mana kemampuan sirkusmu
Tali masi bergantugan tak bertuan
Anjing pelacak masi bnyak berkeliar
Minyak wangimu tebar pesona
Mengelilingi panggung mu yg megah
Garuda masih kuat cengkramannya
Kepala garuda masi tegak kekanan
Itu pertanda kekuatnmu masi secuil
Menempel kuat dikuku kelinci
Kau kepala ular yang berlapis 7
Jelmaanmu terlalu mengiurkan
Bui masi sendiri dalam kesepian
Tembok dan tikar merindukanmu
Untuk meniduri keperawananya
Lubag kloset masi jernih berkilau
Menanti kencing emasmu
Akankah kau sadar akan kekuatan
Atraksi sirkusmu yg berwibawa
Dan penuh keimanan yang busuk
Mampu menipu penonton???
Hmmmm...
Agar kau tau dan paham
Bahwa Penonton lebih kuat. 
Sekuat tali jagat dunia
Karena kekuatan mereka 
Membuatmu jadi terkenal 
Didunia mimpi ke dunia nyata











Label:

3 Komentar:

Pada 17 April 2017 pukul 19.50 , Blogger Unknown mengatakan...

Mantap puisinya, ijin sebagai referensi ya
Kunjungi juga blog saya di http://nathangunawan.blogspot.co.id/
Isinya puisi-puisi juga
Terimakasih :)

 
Pada 18 Februari 2019 pukul 06.25 , Blogger Unknown mengatakan...

Sangat memotifasi,, dan membuka cakrawala pemikir para pembacanya.. Terima Kasih banyak atas puisi yg sangat mbangun ini.. Good Job

 
Pada 9 Maret 2019 pukul 20.56 , Blogger MT. Radjo Batuah mengatakan...

Puisi yg sangat menyentuh... izin share ya

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda